
TURKINESIA.NET – Ketika Eropa dan Amerika Serikat berjuang untuk mengatasi pandemi coronavirus, para pakar memperingatkan bencana di Suriah yang dilanda perang, di mana rumah sakit tidak dapat memenuhi kebutuhan yang ada dan kondisi kebersihan sangat buruk.
Wabah telah menginfeksi lebih dari 1,8 juta orang dan menewaskan lebih dari 112.000 di seluruh dunia sejak muncul di China pada Desember tahun lalu.
Di Suriah, rezim Assad telah menutup perbatasan, melarang perpindahan antar provinsi, serta menutup sekolah dan restoran dalam upaya membendung penyebaran virus.
Angka Covid-19 di Suriah secara resmi rendah. Ada dua kasus kematian dan 19 kasus terinfeksi yang telah dikonfirmasi. Angka uji massal setiap hari sangat rendah, hanya 100 pasien perhari. Setengah dari pengujian dilakukan di ibukota Damaskus.
Sementara rezim telah mendapatkan kembali kendali atas sebagian besar negara setelah hampir satu dekade perang sipil. Beberapa daerah masih dipegang oleh pasukan oposisi moderat yang didukung Turki dan teroris YPG/PKK.
Para ahli mengatakan Damaskus meminimalkan angka korban Covid-19 yang tewas karena motif politik.
“Staf medis percaya bahwa ada banyak orang yang sekarat di Suriah dengan gejala virus,” kata Zaki Mehchy, seorang rekan konsultan senior di lembaga pemikir Chatham House yang berbasis di London.
“Tetapi badan keamanan meminta mereka atau memerintahkan mereka untuk tidak menyebutkannya, terutama kepada media,” tambahnya.
‘Jarak sosial yang tidak mungkin’
Kelompok-kelompok bantuan kemanusiaan memperingatkan tentang konsekuensi wabah parah yang berpotensi menghancurkan di Suriah, di mana sembilan tahun perang telah membuat rumah sakit tidak siap untuk menghadapi pandemi.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kurang dari dua pertiga rumah sakit mulai beroperasi pada akhir 2019 dan 70% pekerja perawatan kesehatan telah mengungsi sejak perang dimulai pada 2011.
Komite Palang Merah Internasional (ICRC) memperingatkan bahwa jarak secara fisik tidak mungkin terjadi di kamp-kamp pengungsian di Idlib. Idlib merupakan provinsi terakhir yang dikuasai oposisi. Provinsi ini telah mengalami krisis kemanusiaan sebelum pandemi dimulai.
“Kurangnya makanan, air bersih dan paparan cuaca dingin telah membuat ratusan ribu orang dalam kesehatan yang buruk, membuat mereka semakin rentan,” kata Misty Buswell dari kelompok bantuan Komite Penyelamatan Internasional (IRC). Ia menambahkan bahwa kehancuran di Idlib bisa “tidak terbayangkan.”
IRC mengatakan bahwa hampir semua dari 105 tempat tidur perawatan intensif dan 30 ventilator dewasa di Idlib sudah digunakan.
WHO mengatakan pengujian akan dimulai di Idlib pada akhir Maret, tetapi mereka tidak yakin ada bantuan dari Damaskus, menurut Mazen Gharibah, associate peneliti di London School of Economics.
“Orang tidak bisa hanya berasumsi bahwa rezim – yang secara sistematis menargetkan rumah sakit tiga minggu lalu – akan menyediakan rumah sakit yang sama dengan peralatan medis minggu depan,” katanya.
Sumber: Daily Sabah





