
Ankara – Kemitraan pertahanan Pakistan yang kian berkembang dengan Türkiye telah menjadi salah satu contoh paling menonjol dari keberhasilan alih teknologi di kawasan ini. Hal ini diungkapkan oleh kepala angkatan laut Pakistan, yang menyatakan bahwa kerja sama antara kedua negara tersebut telah “secara signifikan memperkuat” kapasitas industri dalam negeri Islamabad.
Berbicara kepada Anadolu Agency (AA), Kepala Staf Angkatan Laut Pakistan, Laksamana Naveed Ashraf, mengatakan bahwa kolaborasi tersebut—terutama dalam pembuatan kapal angkatan laut—menunjukkan bagaimana ambisi bersama untuk mencapai kemandirian dapat diterjemahkan menjadi keuntungan industri yang nyata.
Proyek Korvet MILGEM
Laksamana Ashraf mencatat bahwa inti dari “kisah sukses” ini adalah produksi bersama korvet kelas MILGEM, salah satu proyek pertahanan terbesar Pakistan yang melibatkan mitra asing. Ia menggambarkan program kapal perang tersebut sebagai “contoh nyata dari kerja sama ini.”
Berdasarkan perjanjian tahun 2018, Pakistan mengakuisisi empat korvet MILGEM dari perusahaan ASFAT asal Türkiye: dua kapal dibangun di Türkiye dan dua lainnya dibangun di Karachi Shipyard and Engineering Works. Model ini dirancang khusus untuk mentransfer keahlian desain, teknik, dan manajemen proyek ke Pakistan.
Menyebut inisiatif tersebut sebagai “tanda keunggulan kolaborasi pertahanan dan berbagi teknologi Pakistan-Türkiye,” ia mengatakan program itu telah “secara signifikan memperkuat” basis industri lokal Pakistan, serta “membuka jalan bagi kemandirian masa depan dalam pembuatan kapal angkatan laut.”
Dengan pengalaman yang diperoleh, tambahnya, Islamabad dan Ankara dapat “melanjutkan kesuksesan ini untuk menjajaki pengembangan bersama sistem maritim tak berawak, teknologi bawah air, dan sensor canggih.”
Menurutnya, “komitmen bersama Türkiye dan Pakistan terhadap kemandirian dan inovasi” membuat kemitraan semacam itu menjadi “praktis dan saling menguntungkan.”
Kerja Sama Strategis dan Keamanan Regional
Laksamana Ashraf juga menekankan bahwa kerja sama ini tidak hanya bersifat teknis tetapi juga strategis, seraya mencatat bahwa keamanan maritim dalam lingkungan geopolitik saat ini memerlukan “kerja sama melawan tantangan bersama.”
“Kami memandang keterlibatan Türkiye di kawasan ini sebagai pelengkap bagi visi kami tentang lingkungan maritim yang aman demi kemakmuran ekonomi,” ujarnya, merujuk pada pengaruh angkatan laut Ankara yang meluas di Samudra Hindia dan Afrika Timur.
“Kedua angkatan laut memiliki tujuan yang sama terkait stabilitas regional, konektivitas maritim, dan keamanan kooperatif; interaksi rutin kami memperkuat tujuan-tujuan bersama ini,” tambahnya.
Angkatan Laut Pakistan, katanya, memainkan “peran kunci dalam memastikan keamanan maritim regional dan menjaga domain maritim yang terhubung dengan CPEC,” merujuk pada Koridor Ekonomi China-Pakistan (China-Pakistan Economic Corridor).
PIMEC untuk ‘Membangkitkan Kembali’ Ekonomi Maritim
Ashraf juga menyoroti upaya Pakistan untuk menghidupkan kembali ekonomi birunya (blue economy), sebuah area di mana menurutnya Islamabad dan Ankara “berbagi kemitraan yang kuat dan abadi.”
Berbicara mengenai edisi kedua Pakistan International Maritime Expo and Conference (PIMEC) yang diadakan awal bulan ini di kota pelabuhan Karachi, ia mengatakan acara tersebut bertujuan untuk “membangkitkan kembali” kegiatan ekonomi maritim dan memamerkan “potensi maritim” negara yang lebih luas.
Selain pembuatan kapal, kepala angkatan laut tersebut mencatat bahwa Pakistan sedang “secara progresif menggabungkan” domain baru—seperti dominasi informasi dan ketahanan siber—ke dalam pelatihan, doktrin, dan latihan bersamanya.
“Kolaborasi dengan angkatan laut sahabat seperti Türkiye membantu kedua belah pihak membangun keterampilan dalam perang berbasis jaringan (network-centric warfare), operasi perang elektronik, dan konsep-konsep modern, guna memastikan kesiapan melawan ancaman yang terus berkembang,” pungkasnya.





