
TURKINESIA.NET – TRIPOLI. Parlemen Libya di Tripoli pada hari Kamis menyambut seruan gencatan senjata oleh presiden Turki dan Rusia di negara yang dilanda perang itu.
“Setiap inisiatif tidak boleh mempengaruhi hak pemerintah Kesepakatan Nasional [GNA] dan tentara nasionalnya untuk membela rakyat Libya dan ibukota [Tripoli],” kata pernyataan parlemen itu.
Pernyataan itu juga menegaskan bahwa krisis Libya hanya dapat diselesaikan melalui cara politik.
Pihak yang memulai perang – pasukan Khalifa Haftar – tidak dapat menjadi bagian dari solusi politik apa pun, tambah pernyataan itu.
Pada 4 April, Haftar, yang memimpin pasukan yang berbasis di Libya timur, melancarkan serangan untuk merebut ibu kota Tripoli dari Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) yang diakui PBB. Menurut PBB, lebih dari seribu orang telah tewas sejak awal operasi dan lebih dari 5.000 terluka.
Pernyataan parlemen Libya itu juga meminta negara-negara pendukung “pengkhianat Haftar terhadap pemerintah yang sah untuk berhenti memberikan dukungan kepadanya dan meninjau kembali posisi mereka.” ditujukan pada Mesir dan Uni Emirat Arab (UEA).
Dalam pembicaraan telepon dengan Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Mikhail Bogdanov pada hari Kamis, Menteri Luar Negeri Libya Mohamed Taher Siala juga menyambut baik hasil KTT Rusia-Turki yang diadakan di Istanbul pada 8 Januari.
Kedua diplomat tersebut membahas situasi di Libya, mendesak penyelesaian cepat untuk krisis, kata Kementerian Luar Negeri Rusia dalam sebuah pernyataan yang dipublikasikan di situs resminya.
“Dalam konteks ini, Mohamed Taher Siala menyambut hasil pertemuan Rusia-Turki di tingkat tertinggi yang diadakan di Istanbul pada 8 Januari,” katanya.
Dalam pernyataan bersama pada hari Rabu setelah pertemuan di Istanbul, presiden Turki dan Rusia menyerukan gencatan senjata di Libya pada tengah malam 12 Januari.
Recep Tayyip Erdogan dan Vladimir Putin menegaskan kembali “komitmen kuat mereka terhadap kedaulatan, kemerdekaan, integritas wilayah, dan persatuan nasional Libya.”
Sumber: Anadolu Agency





