Home / info dunia / Wapres JK Heran Erdoğan Tidak Beri Kesempatan Tunaikan Shalat Maghrib dalam KTT OKI
Wakil Presiden Jusuf Kalla berpidato dalam acara buka puasa bersama Dewan Masjid Indonesia (DMI) di Istana Wakil Presiden, Jakarta, pada 25 Mei 2018. (foto: Biro Pers Wakil Presiden RI)

Wapres JK Heran Erdoğan Tidak Beri Kesempatan Tunaikan Shalat Maghrib dalam KTT OKI

Jakarta, turkinesia.com — Wakil Presiden RI Jusuf Kalla memiliki pengalaman mengesankan tentang peribadahan kala ia berkunjung ke beberapa negara, seperti Turki dan Spanyol.

Pada Jumat, 18 Mei 2018, Kalla berada di İstanbul, Turki, menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). Saat itu di Indonesia merupakan hari kedua Ramadhan 1439, sedangkan di Turki sudah hari ketiga karena mereka memulainya sejak Rabu (16/5).

Dalam KTT OKI yang dimulai jam lima sore waktu Turki, Kalla mengira bahwa acara itu akan dihentikan sebentar demi berbuka puasa dan menunaikan shalat Maghrib pada pukul 20.26 waktu İstanbul.

Menjelang waktu Maghrib, hadirin KTT OKI hanya diberikan teh dan kurma saja sebagai santapan berbuka puasa.

Yang mencengangkan adalah ketika memasuki waktu Maghrib, KTT OKI itu terus berlangsung tanpa jeda istirahat, shalat, dan makan malam atau yang dikenal di Indonesia sebagai ishoma.

Jangankan menunaikan shalat tarawih, kesempatan untuk menunaikan shalat Maghrib saja tidak ada. KTT OKI berlangsung hingga pukul 24.00 waktu Turki. Sedangkan, waktu Isya saat itu adalah pukul 22.06 waktu İstanbul.

Kalla memahami bahwa shalat Maghrib dapat digabung dengan shalat Isya (jama’ takhir), apalagi kondisinya saat itu ia merupakan seorang musafir yang berhak atas keringanan beribadah itu.

Kalla heran Erdoğan pun–yang dikenal oleh para pengagumnya sebagai seorang muslim yang baik dan kepala negara ideal–sebagai tuan rumah KTT OKI nan bukan musafir, tidak tampak menunaikan shalat Maghrib pada waktunya hingga waktu Isya.

“Betul, musafir (seperti) kita bisa [men]jamak, tapi Erdoğan ‘kan sudah di Turki, tinggal di sana. Jadi, saya bersyukur; di Indonesia pasti [ada] interupsi (atau) segala macam itu untuk ishoma,” seru Kalla kala berpidato dalam acara buka puasa bersama Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) di Istana Wakil Presiden, Kamis (31/5).

Sebaliknya, Kalla memiliki pengalaman yang lainnya ketika ia dan rombongan berkunjung ke Spanyol dalam rangka perjalanan dinas sekitar 10 tahun yang lalu.

Sebagai pembanding pengalamannya dalam KTT OKI di İstanbul tersebut, kisahnya di Spanyol itu sama-sama ia alami pada Bulan Ramadhan.

Seperti diketahui bersama, Spanyol merupakan negara minoritas Muslim, meskipun dahulu Islam pernah berjaya di sana, bahkan melahirkan generasi emas Muslim saat itu.

Sebelum tiba di Spanyol, Kalla beserta rombongan menjalani penerbangan dari Amerika Serikat dan sempat singgah di Frankfurt, Jerman. Mereka tidak berpuasa saat itu.

Setibanya di Madrid, Kalla mengajak rombongan mampir ke sebuah kedai kopi. Saat itu belum memasuki waktu Maghrib.

Sebagian rombongan ada yang memakai kopiah. Melihat pengunjung kedainya berpenampilan seperti itu, seorang pelayan kedai berasumsi rombongan Kalla adalah Muslim dan ia mengingatkan mereka bahwa belum waktunya berbuka puasa.

“Ada (seorang) kawan berkata, ‘Ini Wakil Presiden,’ lalu pelayan bilang, ‘Wakil Presiden harus kasih contoh yang baik dan berjanji besok harus puasa,'” kenang Kalla menceritakan tentang pembicaraan antara mereka dan sang pelayan kedai kopi.

Kalla mengaku dirinya justru mendapatkan pelajaran beragama di Spanyol, negeri dengan minoritas Muslim.

“Jadi, saya dapat pelajaran agama justru di Spanyol, itu pengalaman. Kadang kita bicara keagaaman, keislaman, tapi pelaksanaannya tidak [sesuai dengan yang kita bicarakan],” tutur JK, panggilan akrab Jusuf Kalla.

Kalla berpendapat bahwa beragama dan beribadah di Indonesia masih lebih baik dibandingkan di negara-negara yang lainnya.

“Karena itu, kita bersyukur hidup di Indonesia. Dalam keagamaan, kita jauh lebih baik dari banyak orang (di negara lain) yang bicara tentang keislaman, perjuangan (Islam), tapi caranya berbeda, caranya justru menjadi sekuler,” pungkasnya. (*/r)

About admin

Check Also

Sabiha Gökçen: Pilot Tempur Wanita Pertama di Dunia

Jakarta, turkinesia.com — Sabiha Gökçen (lahir di Bursa pada 22 Maret 1913 dan wafat di …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *