Home / info dunia / Tragedi, Penyanyi Yazidi Menjadi Srikandi
Khatoon Khider dan pasukannya di unit tentara wanita Peshmerga, angkatan bersenjata Kurdi Irak, berpose di antara puing Pasar Sinjar. (foto: Alessandro Rota)

Tragedi, Penyanyi Yazidi Menjadi Srikandi

Mosul, turkinesia.com — Khatoon Khider sudah kadung populer sebagai penyanyi Yazidi. Kini, ia telah menjadi kepala unit tentara wanita Kurdi. Profesi berisiko karena harus berhadapan dengan negara Islam Irak dan Suriah (Islamic State of Iraq and Syria, ISIS).

Jauh sebelum Khatoon mengangkat senjata, ketika wanita-wanita Yazidi–sebuah komunitas etnoreligius yang bermukim di Barat Laut Irak–yang lain pergi berperang, ia masih terkenal sebagai seorang penyanyi.

Bahkan, sejak beberapa tahun sebelum ISIS berdiri hingga hampir sedekade mereka mulai menyerbu dan membunuh di Tanah Airnya, ia masih heran pada suatu hari ia sendiri harus pergi berperang.

“Ketika aku masih kecil, kakekku dan ibuku selalu menangisi dan meratapi bapakku yang menjadi tahanan rezim syiah Iran. Dan sesuatu menggugahku, sehingga aku mengekpresikan kesedihan itu,” kenangnya.

“Hidupku tidak pernah baik. Itulah yang membuatku menjadi seorang penyanyi.”

Keluarga Khatoon merupakan para penggembala dan musisi. Ia lahir saat puncak musim panas di padang rumput Gunung Sinjar, Nineveh, Irak (dekat perbatasan dengan Suriah), ketika mereka berkemah selama beberapa bulan setiap tahunnya untuk mengempani ternak mereka. Lalu, tumbuhlah ia bersama lagu-lagu, dan warisan musik keluarga memengaruhinya.

Sanksi rezim Saddam Husein melonjakkan harga makanan. Keluarganya memerlukan uang lebih banyak lagi. Ia hanya bersekolah sampai kelas enam karena harus bekerja menjadi buruh ladang harian. Sementara itu, memang tidak ada sekolah menengah atas di kotanya.

Bapaknya, Syekh Ali Syamsi, pernah menjadi seseorang yang asing bagi putrinya sendiri ketika beliau bebas dari penahanan rezim syiah Iran pada akhir ’80-an.

“Aku pergi menemui beliau di suatu pos pemeriksaan ketika beliau dibebaskan, dan saat itu ada dua orang yang lain bersamanya, sesama tahanan yang telah menjadi teman. Keduanya pernah melihat fotoku, dan mereka berdua mengenaliku lebih dahulu sebelum aku mengenali yang mana bapakku di antara mereka bertiga,” ungkapnya.

Karena lagu-lagu masa kecilnya terngiang-ngiang di kepalanya saat bekerja, ia meminta abang iparnya sebuah tanbour, alat musik bersenar mirip gitar, serta memintanya mengajarinya memainkannya.

“Aku menyanyi di dalam rumah, tetapi bapakku tidak pernah mengetahuinya,” ucapnya.

Khatoon menjelaskan, “Aku takmau tampil di muka umum, karena kebudayaan kami, yang tidak membolehkan adanya musisi perempuan secara tradisi.”

Salah seorang sepupunya merekamnya saat ia bernyanyi untuk keluarga, sementara itu ia tidak menyadarinya.

Sebanyak hampir 4.000 kopi CD terjual. Suatu hal yang sangat istimewa bagi komunitas miskin dan gagap teknologi.

Kepopuleran secepat itu membuatnya malu, takut menjadi aib keluarga, namun akhirnya bapaknya mendukungnya.

“Kenapa kamu tidak cerita ke Bapak, Bapak tidak ada masalah dengan itu,” kata Bapaknya ketika ia diundang ke kota terbesar di wilayahnya untuk bernyanyi dalam selebrasi yang dihadiri oleh para petinggi komunitas Yazidi pada 2004.

Momen itu merupakan penampilan pertamanya di depan keramaian. Ia hampir lumpuh ketakutan hingga ia menyadari salah seorang dari para pembesar Yazidi di atas panggung mencucurkan air matanya diam-diam.

Belakangan, orang terkemuka itu mengatakan kepadanya bahwa beliau terharu bukan hanya karena lagu yang dibawakannya, melainkan juga karena sang penyanyi, seorang perempuan Yazidi pertama yang bernyanyi di depan publik.

Khatoon mengenang sambil tersenyum, “Sebenarnya saat aku memutuskan untuk menjadi penyanyi, itu seperti pergi ke garis depan dan memerangi musuh, sangat sulit untuk memilih profesi ini sebagai seorang perempuan.”

Kini, Khatoon telah menjadi seorang srikandi Yazidi. Ia menyamakan dirinya seperti seorang pria, masuk kemiliteran hingga membentuk dan melatih unit tentara wanita rahasia.

Kesemuanya itu ia lakukan hanya agar dapat mengikuti kekasihnya di garis depan medan perang. Alhasil, ia pun menemuinya, tetapi itu memakan waktu yang cukup lama, sehingga kekasihnya itu bersedih atas perpisahan keduanya.

Guncangan dalam pertemuan mereka menimpa sang kekasih, saat ia wafat di pelukan Khatoon.

“Itulah kehidupan, kamu melalui momen-momen buruk, gembira, dan sedih,” ungkapnya.

Lagu-lagu biasanya tragis, tetapi baginya, tahun-tahun itu dipenuhi oleh keriangan musik dan ketenaran.

“Kehidupan seorang penyanyi merupakan kehidupan yang terbaik,” katanya sambil merelakan dirinya meratapi momen buruk nan menyedihkan itu untuk menghapus masa lalu bersama lingkungan permukimannya dan kampung-kampung di sekitarnya.

Pada musim panas 2014, ISIS menyerbu daerah mereka, bahkan rumah keluarganya, membunuh, menyiksa, dan memperbudak keluarganya, teman-temannya, dan masyarakat di sana.

Berbulan-bulan Khatoon berseragam Peshmerga (angkatan bersenjata Kurdi Irak). Didorong oleh kegeramannya, ia ingin membalas dendam.

“ISIS percaya bahwa mereka tidak akan memasuki surga jika terbunuh oleh wanita. Mereka tidak seberani yang dibayangkan.”

Khatoon tidak seperti seorang tentara yang selayaknya. Ia mudah tersenyum, agak pemenung, dan kurang kurus dibandingkan dengan komandan yang lainnya.

“Tadi aku tidak menyantap sarapan, aku ingin mengurangi berat badan,” akunya sambil tersenyum simpul usai mengawasi latihan para tentara wanita. Matahari pagi di atas markas mulai terasa panas.

Khatoon Khider melatih anak buahnya di markas mereka di Snuny, Provinsi Sinjar, Irak. (foto: Alessandro Rota)

 

Khatoon menyatakan, “Setelah apa yang terjadi terhadap para wanita dan remaja putri Yazidi, aku memutuskan untuk berhenti bernyanyi sampai aku dapat membalas dendam untuk mereka.”

“Mungkin aku akan kembali bermain musik, tetapi aku pikir pekerjaan sebagai tentara ini akan menjadi profesi yang bertahan lama,” lanjutnya. (r)

Sumber: Guardian

About admin

Check Also

Sabiha Gökçen: Pilot Tempur Wanita Pertama di Dunia

Jakarta, turkinesia.com — Sabiha Gökçen (lahir di Bursa pada 22 Maret 1913 dan wafat di …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *