Home / info dunia / Sabiha Gökçen: Pilot Tempur Wanita Pertama di Dunia

Sabiha Gökçen: Pilot Tempur Wanita Pertama di Dunia

Jakarta, turkinesia.com — Sabiha Gökçen (lahir di Bursa pada 22 Maret 1913 dan wafat di Ankara pada 22 Maret 2001) merupakan seorang penerbang wanita Turki. Saat berusia 23 tahun, ia menjadi pilot pesawat tempur wanita pertama.

Rekor Dunia Guinness mencatat namanya sebagai pilot pesawat tempur wanita pertama di dunia. Selain dirinya, Marie Félicie Elisabeth Marvingt (20 Februari 1875–14 Desember 1963), seorang atlet, pemanjat gunung, penerbang, dan jurnalis Prancis, serta Yevgeniya Mikhaylovna Shakhovskaya (1889–1920), seorang penerbang Rusia, memang sudah menjadi pilot kemiliteran sebelum Gökçen, tetapi keduanya bukanlah pilot pesawat tempur dan tidak melalui pendaftaran akademi militer di negara masing-masing.

Gökçen muda merupakan seorang anak yatim. Ia adalah satu dari delapan anak adopsi Mustafa Kemal Paşa (Atatürk), sang pendiri Republik Turki.

Karier Penerbangan dan Kemiliteran
Atatürk sangat mementingkan urusan penerbangan. Oleh sebab itu, ia mengawasi pendirian Asosiasi Aeronautikal Turki (Türk Hava Kurumu, THK) pada 1925.

Pada 5 Mei 1935, Atatürk mengajak putri angkatnya itu ke upacara peresmian Sekolah Penerbangan Türkkuşu “Burung Turki”. Selama pertunjukkan udara, Gökçen sangat tertarik dengan atraksi yang menampilkan pesawat-pesawat terbang layang tanpa mesin (glider) dan para penerjun payung.

Ketika sang bapak angkat menanyakan apakah ia pun mau menjadi seorang penerjun, Gökçen menjawab, “Iya, tentu saja; saya siap sekarang juga.”

Kemudian, Atatürk menginstruksikan Ahmet Fuat Bulca, kepala sekolah penerbangan tersebut, agar mendaftarkan Gökçen sebagai siswi pertama. Ia diharapkan menjadi seorang penerjun payung. Akan tetapi, Gökçen lebih tertarik dengan penerbangan, sehingga ia berusaha mendapatkan lisensi pilotnya.

Bersama tujuh siswa penerbangan Gökçen dikirim ke Rusia untuk menjalani kursus lanjutan tentang menerbangkan pesawat glider dan pesawat bertenaga mesin.

Saat berada di Moskva, Gökçen mengetahui kabar kematian Zehra Aylin (1912–19 November 1935), putri adopsi Atatürk yang lain, dan semangatnya memudar. Ia segera kembali ke Turki, mengisolasi dirinya dari aktivitas sosial selama beberapa saat.

Tiga putri (dari delapan anak) angkat Atatürk (dari kiri ke kanan): Zehra Aylin, Rukiye Erkin (1911–1995), dan Sabiha Gökçen.

 

Karena saat itu wanita tidak diterima di Akademi-Akademi Perang Turki (Türk Harp Akademileri, THA), disediakan seragam khusus bagi Gökçen atas perintah Atatürk. Ia mengikuti program pendidikan khusus di sebuah Tayyare Mektebi (sekolah penerbangan) di Eskişehir selama sebelas bulan (tahun pelajaran 1936–1937).

Setelah mendapatkan diploma penerbangannya, Gökçen berlatih agar dapat menjadi pilot pesawat tempur di Resimen Pesawat Terbang I di Eskişehir selama enam bulan.

Ia meningkatkan kemampuannya dengan menerbangkan pesawat tempur dan pesawat pengebom di Resimen tersebut di Pangkalan Udara Eskişehir. Pengalaman pertamanya ialah berpartisipasi dalam pelatihan-pelatihan di Laut Aegea (Yunani dan Turki) dan Trakia (Bulgaria dan Turki) pada 1937.

Pada tahun yang sama, Gökçen turut dalam operasi kontra pemberontakan Kurdi di Region Dersim (kini: Provinsi Tunceli) dan secara resmi, ia menjadi pilot pesawat tempur wanita Turki pertama.

Berkat aksi gemilangnya menumpas pemberontak dengan pesawat yang membawa 50 kg bom, Gökçen diganjar sejumlah penghargaan, antara lain takdirname (surat penghargaan) dan medali Murassa.

Sabiha Gökçen bersama pejabat-pejabat Angkatan Udara Turki pada 1938.

 

Pada 1938, Gökçen melakukan penerbangan selama lima hari di sekitar Balkan. Di tahun ini pula, ia ditunjuk menjadi seorang kepala pelatih Sekolah Penerbangan Türkkuşu THK. Ia menjabat hingga 1954 dan kemudian, menjadi seorang anggota dewan eksekutif THK.

Sabiha Gökçen berada di Athena selama penerbangannya di sekitar Balkan pada 1938.

 

Gökçen telah melatih empat penerbang wanita, yakni Edibe Subaşı, Yıldız Uçman, Sahavet Karapas, dan Nezihe Viranyalı.

Selama kariernya di Angkatan Udara Turki, Gökçen terbang dengan 22 pesawat yang berbeda dengan total jam terbang sebanyak 8.000 jam, termasuk misi-misi tempur aktif dan pengeboman selama 32 jam.

Ia sudah terbang mengelilingi dunia selama 28 tahun hingga 1964.

Sabiha Gökçen menulis sebuah buku berjudul A Life Along the Path of Atatürk yang terbit pada 1981 oleh Türk Hava Kurumu dalam rangka memperingati 100 tahun lahirnya Atatürk.

Seperti bapak angkatnya, nama Sabiha Gökçen diabadikan menjadi nama bandar udara di İstanbul. Bandara Internasional Atatürk di İstanbul bagian Eropa, sedangkan Bandara Internasional Sabiha Gökçen di İstanbul bagian Asia. (*/r)

About admin

Check Also

Dua Cuitan Akun Twitter Organisasi Jurnalis Independen Turki Diblok Otoritas Setempat

Turkinesia.com – Seorang hakim untuk Pengadilan Perdamaian Persekutuan Ketiga Istanbul, pada hari Selasa (10/10) waktu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *