Home / info indonesia / KPAI : Fakta Dibalik Pelibatan Perempuan & Anak Dalam Aksi Terorisme

KPAI : Fakta Dibalik Pelibatan Perempuan & Anak Dalam Aksi Terorisme

Aksi TEROR BOM yang terjadi di Kota Surabaya menjadi keresahan masyarakat Indonesia dan Internasional. Fenomena yang mengejutkan adalah pelibatan keluarga, perempuan dan anak dalam Aksi sadis tersebut.

Oleh karena itu ICPW dan Pemerhati anak yang didalamnya akan dilibatkan Kemsos, Kementerian PP & PA, KPAI, P2TP2A dan praktisi Psikolog akan memberikan penguatan pada POLRI melakukan pendekatan pada pelaku anak yg dilibatkan pada AKSI TERORISME oleh orangtua mereka, anak tersebut sebenarnya merupakan korban dari orangtua & lingkungan.

ICPW dan Pemerhati Anak akan melakukan analisa dan profiling terhadap fenomena pelibatan perempuan, anak dan keluarga yang hasil analisa akan diberikan pada Pemerintah dan lembaga terkait sebagai rekomendasi untuk pencegahan dan deteksi dini pada Aksi Teror yang dilakukan oleh Terorisme yang sangat teroganisir baik di Indonesia dan Internasional.

Dugaan adanya regenerasi dan pengkaderan oleh kelompok radikalisme menjadi warning dan awarness pada seluruh elemen bangsa karena akan mengancam stabilitas, Ideologi dan keutuhan NKRI. Semua pihak segera berupaya untuk meredam aksi teror agar tidak menjadi pemicu konflik seperti sosial, ekonomi, dan dijadikan alat pemecah belah persatuan.

Memberikan saran pada pemerintah untuk pendampingan dari pemerintah pusat dan daerah kepada para warga yang di deportasi pada negara negara yang diduga pendukung ISIS, seperti yang terjadi beberapa waktu lalu. Mereka di deportasi dan di tempatkan sementara pada shelter Kemsos.

Sebaikanya warga yg di deportasi dari negara konflik ISIS dilakukan pendampingan untuk di deradikalisasi serta diberikan penguatan ekonomi, sosial dan spritual, termasuk wajib lapor pada Polisi, ini semua dilakukan pada aspek pencegahan.
Tinjauan aspek psikologi bahwa Usia anak sangat mudah dilibatkan pada hal apapun termasuk aksi TERORISME dikarenakan beberapa hal yaitu;

Pertama, Orangtua mempunyai peran penting dalam fase pembentukan karakter anak. Kedua, Pola pikir anak dipengaruhi oleh orang terdekat terutama orangtua. Ketiga, pengambil keputusan pada anak sangat bergantung pada orangtua. Keempat, kemampuan adaptasi remaja dipengaruhi oleh nilai nilai yang didapatnya (lingkungan sosial, keluarga).

Kelima, keluarga adalah pihak pertama yang memberikan dasar-dasar nilai bagi anak. Keenam, perilaku tindak kriminal oleh anak/remaja merupakan akibat dari aspek Psikososial. Ketujuh, anak Remaja mempunyai karakteristik yang unik. Kedelapan, masa remaja adalah masa transisi dari periode anak-anak menuju dewasa dan remaja berada pada masa badai topan (Strum and drung) yang artinya mempunyai jiwa yg meletup dan ingin di akui keberadannya (Psikolog ; G. Stanley Hall) dan Kesembilan, ciri khas remaja adalah belum memilki identitas yang jelas dan sedang mengalami krisis identitas (teori Erik Erikson, psikolog)

“Perempuan dilibatkan pada Aksi Sadis TERORISME, Berdasarkan teori sosial kognitif Albert Bandura (Psikolog) bahwa ada hubungan antara Pribadi, Lingkungan dan Tingkah Laku saling mempengaruhi. Selain itu, pada saat diikat perkawinan Perempuan sangat mudah dipengaruhi dosebabkan faktor “Taat” pada suami,” ujar Erlinda, Komisioner KPAI dalam keterangan pers, Senin (14/5/18).

Ada ikatan kuat pada hubungan suami isteri sehingga perempuan menjadi “pengikut setia dan selalu merasakan hal yang sama” oleh suatu doktrin. Budaya Patriaki bahwa perempuan harus menurut pada laki-laki (perempuan dianggap lemah)

Selain itu, perempuan dilibatkan dikarenakan aspek “HUMANIS”, rasa iba dan kasihan jika menyakiti perempuan. Perempuan lebih aman dan cenderung tidak dicurigai dibanding dengan laki-laki dan seorang Ibu atau perempuan sangat dekat dengan anak sehingga mudah melakukan doktrinisasi pada anak dan orang lain.

Oleh karena itu semua elemen bangsa BERSATU MELAWAN TERORIS DAN PAHAM RADIKALISME untuk menyelamatkan Indonesia. Keberhasilan pencegahan terorisme tidak hanya pada level kebijakan pemerintah, Penegakan Hukum pada tindak pidana, tetapi dikuatkan pada aspek pencegahan yakni penguatan KETAHANAN KELUARGA serta program REHABILITASI pada keluarga yang terkontaminasi pada paham radikal.

Benteng utama penangkalan paham radikal terorisme adalah peran IBU dan perempuan dalam keluarga. Karena itulah, peran perempuan sangat strategis dalam edukasi dan literasi terhadap keluarga khususnya anak-anak agar terhindar dari paham kekerasan dan terorisme.
STOP PANEN RAYA AKIBAT PEMBENIHAN DARI EKSTREMIS

About admin

Check Also

Hadiah Perpisahan dengan Juventus, Buffon Kawinkan Trofi Liga Serie A dengan Coppa Italia

Laga pekan ke-38 Liga Italia Juventus lawan Hellas Verona di Stadion Allianz, Turin Sabtu (19/5) …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *