Home / info dunia / Erdogan, Ince, dan Sejarah Pemilu Presidensial Pertama di Turki

Erdogan, Ince, dan Sejarah Pemilu Presidensial Pertama di Turki

Turkinesia.com – Turki akan jalani pemilu (pemilihan umum) legislatif dan presiden yang bersejarah, Ahad (24/6) ini. Pasalnya, Pemilihan umum ini akan menerapkan sistem pemerintahan berbasis presidensial, dengan kepala negara dan pemimpin pemerintahaan di bawah komando langsung sang Presiden.

Serta jika Recep Tayyip Erdogan kembali memimpin Turki, dia lah presiden pertama dengan rentang kekuasaan terbesar sejak Turki bersistem pemerintahan modern.

Bentuk ‘baru’ presidensialisme Turki diusulkan oleh Recep Tayyip Erdogan melalui partainya, AKP, dan telah resmi disetujui sejak tahun lalu. Dengan referendum kontroversial tahun lalu, Turki akan mengkonversi kekuasaan tertinggi dari perdana menteri menjadi presiden terpilih setelah pemilu Turki nanti.

Baca Juga: [Sebelum 24 Juni, Pemilu Turki di Luar Negeri Berlangsung Lebih Dahulu]

Posisi perdana menteri dan kekuasaan eksekutif nantinya dialihkan ke presiden sebagai kepala negara yang juga sebagai kepala pemerintahan. Presiden terpilih memiliki hak memilih langsung wakil presiden, para menteri, para birokrat, dan hakim.

Presiden pun dapat mengajukan anggaran nasional yang sebelumnya dirancang parlemen. Pun bila tidak disetujui, anggaran tahun sebelumnya yang akan diberlakukan.

Banyak pengamat politik Turki menganggap referendum presidensial kontroversial ini bertujuan melanggengkan posisi pemimpin tertinggi Turki tetap di bawah komando Erdogan. Sebab banyak kejanggalan dalam proses referendum tahun lalu ini, meskipun pada akhirnya tetap disetujui untuk diterapkan pada pemilu Turki kali ini.

Dilansir dari Reuters, kubu pemerintah pimpinan Recep Tayyip Erdogan, selaku incumbent, lebih diunggulkan dan diuntungkan untuk memenangkan pemilihan presiden pertama bersistem presidensial ini. Meskipun, sejauh ini Erdogan banyak diterpa isu ekonomi terkait krisis yang banyak diberitakan media-media barat.

Dalam perjalanan sejarah Erdogan dan partainya, AKP, memang tidak tergantikan dalam peta politik Turki modern sampai saat ini. Tercatat, sejak 1923, AKP sukses menang di 12 pemilihan umum.

Mengenai perjalanan karir Erdogan sendiri, ia memulainya ketika terpilih sebagai walikota Istanbul (1998), lalu karirnya meningkat menjadi perdana menteri pada tahun 2003 sampai dengan 2014, dan menjadi presiden Turki dari tahun 2014 hingga saat ini. Jika ia kembali terpilih menjadi presiden, tidak hanya menjadi presiden pertama bersistem presidensial tetapi juga akan mencokolkan namanya sebagai pemimpin Turki terlama di masa pemerintahan Turki modern ini.

Pasalnya jika tidak ada referendum tahun lalu mengenai presidensial, batas kuota menjabat sebagai peminpin Turki sudah habis ia pakai, baik sebagai perdana menteri maupun presiden. Karena perubahan sistem pemerintahan, membuatnya dapat mengikuti pesta demokrasi tertinggi di Turki ini.

Lain dari itu, muncul sosok politikus dari pihak oposisi, Muharrem Ince, yang siap beradu kursi tertinggi pemerintahan Turki. hadir untuk memperbaiki kemunduran yang terjadi di masa kekuasaan Erdogan, terutama tentang isu ekonomi Turki dan juga isu imigran Suriah yang mengungsi ke Turki yang selalu disalahkan oleh pendukung pemerintah sebagai penyebab masalah ekonomi di Turki.

Baca Juga: [Dengan Kucuran Dana Asing, Bisakah Turki Mengatasi Jatuhnya Nilai Tukar Lira?]

Ditambah lagi, selama ini Erdogan terus membantu para gerilyawan yang ingin menggulingkan pemerintahan Assad di Suriah dan mendesak agar sang presiden tetangga untuk mengundurkan diri. Sedangkan Ince lebih memberikan opsi pola yang lebih birokrasi dan bersifat perdamaian, dengan membuka kerja sama dengan negara tetangga Turki tersebut.

Dengan pulihan hubungan dengan Presiden Suriah Bashar al-Assad dan menunjuk seorang duta besar untuk Damaskus hanya dalam 10 hari jika dirinya terpilih menjadi presiden, merupakan janjinya saat kampanye.

“Dengan kebijakan berorientasi perdamaian, kami akan memulangkan para pengungsi Suriah dengan gegap gempita,” kata Ince yang terkutip dari repubika.

Terkait isu ekonomi Turki yang anjlok secara signifikan, pihak AKP menilai isu ekonomi dan pelemahan lira tersebut merupakan ulah barat demi menggoyang hegemoni politik Erdogan.

“Ada kekuatan asing yang menunggangi pemilu kali ini. Tapi, mereka harus tahu bahwa sekalipun yang maju dalam pemilu adalah mayat dari Erdogan, dia tetap dipilih rakyat,” kata pendukung garis keras AKP, Gulbahar Turan, dalam kampanye terakhir di Istanbul.

Baca Juga: [Mengapa Lira Turki Merosot terhadap Dolar AS?]

Banyak pengamat politik Turki menyebut pola kampanye AKP tersebut bisa menjadi bomerang bagi mereka sendiri. Sebab, berusaha melempar permasalahan anjloknya ekonomi dalam negeri kepada pihak luar negeri yang disebutnya ‘barat’, bukan malah memperbaiki kinerjanya untuk masyarakat Turki.

About admin

Check Also

Dua Cuitan Akun Twitter Organisasi Jurnalis Independen Turki Diblok Otoritas Setempat

Turkinesia.com – Seorang hakim untuk Pengadilan Perdamaian Persekutuan Ketiga Istanbul, pada hari Selasa (10/10) waktu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *