Home / info dunia / Bagi Erdoğan, Seorang Intelektual Sekalipun Merupakan Teroris

Bagi Erdoğan, Seorang Intelektual Sekalipun Merupakan Teroris

Oleh Kenan Malik*

London, turkinesia.com — Presiden Turki, Recep Tayyip Erdoğan, sedang menghancurkan masyarakat sipil. Hal itu hampir tidak diperhatikan kala ia berada di Inggris pekan lalu.

Bayangkan sebuah seminar di London. Dihadiri oleh para pendukung eks pemimpin Partai Buruh dan mantan Perdana Menteri Inggris, Toni Blair, yang disebut sebagai Blairites, para pendukung pemimpin Partai Buruh, Jeremy Bernard Corbyn, yang dikenal sebagai Corbynistas, para pendukung Partai Kebebasan Inggris (UKIP), orang-orang yang kontra Brexit atau remainers, nasionalis Skotlandia, Islamis, feminis, aktivis transgender, dan lain-lain. Mereka semua membahas masa depan politik Inggris dengan ketidaksepakatan yang kental, namun demikian tetap saling menghormati.

Akan sulit membayangkan berikut ini seperti halnya gambaran di London tersebut. Seminar serupa sulit dapat terjadi di İstanbul. Ketika saya memberikan kuliah di sana pada September tahun lalu, bagai itulah rasanya.

Saya sedang membahas tentang populisme dan imigrasi saat itu. Di ruangan itu dihadiri oleh mahasiswa-mahasiswa yang terdiri dari pendukung Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP), oposan, liberalis, demokrat sosial, nasionalis Turki, Kurdi, dan Armenia. Mereka memiliki pandangan yang berbeda satu sama lain, tetapi semuanya berkomitmen untuk berdialog secara terbuka.

Seminar diselenggarakan oleh sekolah politik Eropa yang digagas oleh Osman Kavala. Kavala ialah seorang intelektual penting dan tokoh budaya di Turki.

Dua bulan setelah saya bertemu dengannya di İstanbul, ia ditahan oleh otoritas. Kemarin, ia memasuki masa penahanan selama 200 hari. Belum ada vonis yang dikenakan kepadanya.

Di media dan parlemen banjir sindiran terhadapnya bahwa Kavala merupakan seorang musuh Turki, berafiliasi dengan kelompok-kelompok teroris, bahkan terlibat dalam percobaan kudeta 15 Juli 2016. Tuduhan-tuduhan itu tidak menyenangkan dan omong kosong.

Kavala berperan menonjol, baik dalam membela hak-hak dan kebebasan semua orang di Turki, termasuk Kurdi dan Armenia, maupun dalam mempertemukan orang-orang dengan sudut pandang politik yang berbeda-beda untuk mendiskusikan pandangan masing-masing pada debat sipil.

Kavala mendanai proyek-proyek kecil yang berusaha memelihara kepercayaan antara Turki dan Armenia. Ia adalah pemimpin Anadolu Kültür, sebuah organisasi yang mempromosikan pluralisme budaya di Turki, yang bertujuan untuk menjembatani etnik-etnik, kelompok-kelompok agama, kelompok-kelompok regional yang berbeda-beda dengan cara saling berbagi kebudayaan dan kesenian.

Pada September 2017, kami dan beberapa teman pergi makan ke sebuah restoran ikan İstanbul favoritnya. Kami semua khawatir terhadap situasi politik Turki yang memburuk, tetapi Kavala tidak mengkhawatirkan dirinya. “Saya ragu apakah mereka (rezim dan otoritas, ed.) tertarik kepada saya,” ungkap Kavala saat itu.

Kavala merupakan seorang yang berinteraksi atau bertukar informasi dengan orang lain dan seorang konsiliator, bukan seorang yang suka berpolemik, apalagi berkonfrontasi.

Kavala ialah seorang yang mempertemukan orang-orang untuk berdiskusi dan berdebat serta mengusahakan terciptanya masyarakat yang lebih baik melalui pertemuan dan proses itu.

Penahanan terhadap Kavala merupakan sebuah tanda bahwa dengan pembersihan–pencopotan staf yang bermasalah dengan rezim–tentara, pengadilan, aparatur sipil negara, dan akademisi, Presiden Recep Tayyip Erdoğan telah mengalihkan atensinya kepada masyarakat sipil pula; sebuah tanda bahwa memelihara dialog terbuka sekalipun adalah ancaman (bagi rezim).

Sejak Erdoğan memberlakukan keadaan darurat pascakudeta gagal Juli 2016, tingkat penindasan (oleh rezim) di Turki telah berlebihan melampaui batas.

Diperkirakan lebih dari 150.000 orang, termasuk hampir 6.000 akademisi dan sekitar 4.500 hakim dan jaksa, telah diberhentikan dari pekerjaan mereka.

Lebih dari 137.000 orang telah ditahan. Hampir 200 media telah diberedel dan 100.000 situs web diblokir.

Dari semua jurnalis yang ditahan sedunia, hampir sepertiganya ditahan di Turki.

Tujuan dari semua itu adalah untuk menghapus kritikan terhadap rezim dan kebijakannya. Dan itu berhasil.

“Ketakutan dan penyensoran sendiri (untuk menghindari hukuman) bagaikan asap,” ujar seorang akademisi senior kepada Human Rights Watch.

Seorang mahasiswa menambahkan, “(“Asap”) itu meresap ke mana-mana, dan makin menebal setiap hari. Kami tidak dapat bernapas lagi. Kini, kami tidak lagi hanya berpikir dua kali, tetapi tiga atau empat kali sebelum menulis atau mengatakan sesuatu.”

Pekan lalu, Erdoğan datang ke Inggris dalam kunjungan kenegaraan, menemui Perdana Menteri Theresa Mary May dan Ratu Elizabeth II.

Inggris memandang Turki sebagai partner penting pascabrexit. Sementara itu, Turki menemukan Inggris sebagai sekutu dalam perang melawan terorisme.

Inggris telah menjual persenjataan senilai lebih dari satu miliar dolar AS sejak kudeta gagal Juli 2016.

May mengutarakan bahwa nilai-nilai demokratis perlu ditegakkan, tetapi bersimpati kepada seorang pemimpin negara yang menghadapi tekanan luar biasa kudeta dan terorisme Kurdi.

Erdoğan bersikeras bahwa mereka semua yang telah ditahan merupakan teroris. Dalam dunia yang terorisme telah menjadi dasar semua pembenaran atas penindasan massal, Erdoğan melenggang bebas melanjutkan kebijakan-kebijakannya.

Sementara itu, para korban kebijakan-kebijakan rezim Erdoğan terus bertambah: yang tewas, yang dipenjara, yang diberhentikan dari pekerjaannya, yang terbungkam.

Dalam dunia yang terfragmentasi, yang perubahan sosial sering terjadi cenderung disebabkan oleh kemarahan dini daripada argumen masuk akal, seseorang seperti Kavala sangatlah diperlukan.

Pemenjaraan terhadapnya merupakan pemenjaraan terhadap harapan pula.

*Penulis merupakan seorang pengamat dan kolumnis

About admin

Check Also

Dua Cuitan Akun Twitter Organisasi Jurnalis Independen Turki Diblok Otoritas Setempat

Turkinesia.com – Seorang hakim untuk Pengadilan Perdamaian Persekutuan Ketiga Istanbul, pada hari Selasa (10/10) waktu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *